Cerita Mama dan ARJUNA

Monday, 9 November 2015

JADI SMARTMOM ITU NGGAK GAMPANG!

 JADI SMARTMOM ITU NGGAK GAMPANG!



Hello mommy-mommy semuanya, apa kabarnya? Baik kan, yaaa? Alhamdulillah.

Hmm, kali ini aku mau bicara soal smart mom, menjadi ibu yang cerdas buat si kecil. Hmm, ibu cerdas itu yang gimana, sih? Apa harus berpendidikan tinggi, gitu? Nggak juga, kog. Jadi ibu cerdas yang aku maksud di sini itu jadi ibu yang bisa memilih berita yang baik atau cuma sekedar hoax ajah. Kan banyak yaaa, di sosmed zaman sekarang itu berita hoax, apalagi tentang merawat bayi, banyak banget.


Terus, gimana menyikapinya?
Kalau versi aku yaaa, Mom, aku sendiri seorang ibu, baru setahun menjadi ibu, dan seorang ibu itu pasti ingin yang terbaik buat anaknya. Aku nggak mau banget terpaku pada satu berita. Aku harus pinter milih berita, cari tahu sumbernya serta tanya-tanya sama yang udah berpengalaman. Nggak lupa juga, konsultasi sama dokter atau bidan, karena aku yakin, mereka lebih ngerti gitu.

Emangnya, ada berita apa ajah, sih?
Oke. Di sini aku mah nggak mau mempengaruhi ataupun menggurui Mommy-mommy semuanya, yaaa? Aku cuma mau bagi cerita ajah, kog. Ini loh, cara aku mendidik anakku. Kalau ada saran dan kritik, aku mau banget kog menerimanya. Asal nggak nyinyir yah, hehehe.

1. Pemakain Gurita
Hmm, Mommy-mommy pastinya udah tahu, kan apa itu gurita? Pernah baca postingan di Facebook, katanya dokter melarang tuh pemakaian gurita pada bayi. Hmm, dikarenakan ada bayi meninggal karena sesak nafas.
Waktu berita itu aku baca, anakku masih pakai gurita. Lantas, apakah aku terus nggak makein gurita buat anakku? Enggak. Aku tetap makein kog. Aku mikir, bayi yang meninggal itu karena takdir atau mungkin kekecengen makai guritanya. Lagian, kata emak-emak zaman dulu, pakai gurita kan biar perutnya nggak kembung. Yahh, sebagai mommy baru, tentunya aku masih awam banget soal ngerawat bayi. Dan setelah aku pikir, oke tetep lanjut pakai gurita, nalinya jangan kenceng-kenceng. Kalau aku mah, begono Mommy-mommy.
Lagipula, aku kan lahiran di rumah sakit bersalin, dokter dan bidan-bidannya juga nggak ngelarang, kog. Jadi, aku tetep lanjutin makai guritanya.

2. Bedong Bayi
Bedong itu cuma menghangatkan. Ada juga yang bilang gitu. Tapi emak-emak zaman dulu, katanya bedong itu biar kakinya lurus dan nggak O.
Dan zaman sekarang, banyak kan bedong instan. Tapi kalau aku, makainya bedong yang kayak selendang itu. Iya, aku tetep pakai bedong kog, dan bukan bedong instan.
Tapi ada juga, Mommy yang nggak mau makein bedong anaknya. Katanya kasihan dan bla bla bla... Kalau aku mah terserah, hak Mommy yaaa mau ngerawat anaknya kayak apa. Kalau aku masih makein dan kebetulan lagi dokter tempat aku bersalin juga nggak ngelarang. Hehehe.

3. Sufor?
Aku adalah Mommy yang ProASI tapi bukan berarti NoSufor. Iyaaa, BabyJuna emang terpaksa minum sufor untuk pertama kalinya. Aku lahiran SC, kala itu BabyJuna nangis terus. Kata dokternya, boleh minum sufor setelah 2 jam lahir, itupun sedikit aja. Karena waktu itu aku belum sadar betul dan ASI aku juga belum keluar.
Dan tetep, setelah kondisi aku pulih, aku harus tetep ngeberi ASI ke BabyJuna meskipun belum keluar yaaa kudu tetep dicoba. Dan 2 hari, ASI aku belum keluar.

4. Madu?
Mungkin ada saran juga, sebaiknya enggak sufor, madu ajah. Tapi dilarang sama dokter, katanya madu itu panas. Okelah, kasihan bayinya.

5. Jamu
Aku ini orang desa, kata emak-emak zaman dulu, minum jamu yang warnanya iji dan pahit itu biar ASInya deras. Tapi NO! Dokter nggak ngebolehin. Terus, temen aku juga nyaranin jangan, jamu bisa bikin pendarahan.

6. Pampers
Kalau masalah pampers, aku juga makein kog meskipun nggak secara terus-menerus. Iya, aku pernah baca, pemakaian pampers secara terus menerus bisa berakibat kemandulan bagi anak. Tapi aku tetep makein kog, tapi kalau diajak pergi atau pakai baju setelan. Nggak terus menerus.

7. Baby Walker
Pernah baca juga, baby walker nggak boleh dipakai. Bisa merusak motorik anak, ntar ngak biasa terjatuh. Ada juga yang bilang, bisa bikin kaki ngangkang. Padahal aku sendiri juga produk baby walker. Hehehe.
Hmm, niatnya sih aku emang nggak beliin baby walker buat BabyJuna. Tapi dikasih. Iya, BabyJuna make, kog. Usia 7 sampai 10 bulan. Sekarang udah mau berdiri, suka pegang ini itu buat jalan, udah nggak mau sendiri dan BabyJuna juga terbiasa jatuh kog.
Dan waktu BabyJuna naik baby walker, itupun au nggak boleh lengah. Iya, banyak anak terjatuh naik baby walker, apalagi yang bulat itu. Makanya, meski naik, aku tetep waspada.

8. Imunisasi
Pernah baca juga, imunisasi di Indonesia itu nggak baik. Masukin virus yang menyebabkan penyakit bukan mencegah. Ada juga yang bilang, ada kandunga babinya. Tapi kalau aku, tetep kog anakku tak imunisasi.

9. MPASI
Untuk makanan, aku termasuk overprotektif banget. Tapi meski gitu, BabyJuna nggak cuma makan yang homemade ajah, kog. Aku juga ngaih MPASI buatan pabrik. Kenapa? Karena aku tahu, zaman sekarang nyari makanan yang sehat banget itu susah, seenggakya biar BabyJuna juga ngerasain makanan pabrik. Aku gini karena ada beberapa pengalaman, ada anak yang makannya itu dikengkang banget sama orang tuanya, tapi suatu ketika pengen jajanan temennya, nah, terbiasa makan makanan sehat, sekalinya makan makanan buatan pabrik malah sakit. Yaaa, bukannya makanan buatan pabrik itu nggak sehat, tapi tahu kandungannya gimana, kan? Akupun ngizinin BabyJuna makan makanan buatan pabrik juga milih-milih dan ngebatasi kog. Seenggaknya ngenalin ajah, agar suatu ketika kalau pengen makanan temennya, anak aku enggak kaget.

10. Dot
Tahu waktu nonton acara TV, pemakaian dot nggak bagus. Bisa merusak rahang gigi atau ini itu. Iya, tapi gimana lagi, BabyJuna itu anak yang nggak sabaran, nggak mungkin juga dikasih minum pakai disendokin.
Hmm, jalan satu-satunya adalah milih dot yang bentuknya nggak beda jauh sama nenen. Selain itu, aku juga nggak ngizinin BabyJuna ngempeng. Dot Cuma kalau minum susu aja. Dan karena sekarang udah setahun, tetep diajarin minum pakai gelas, dong.

Nah Mom, itu hanya sebagian kisah aku jadi mommy. Alasanku kenapa aku ini itu soal BabyJuna.

Iya, ngerasa belum baik jadi mommy. Idealnya seorang mommy itu di rumah, full IRT, tapi aku belum bisa. Ada alesan lain selain ekonomi tentunya.

Iya, ngerasa dosa ketika harus ngasih BabyJuna sufor dan dot. Ngerasa banget. Tapi keadaan, gimana lagi?

Buat mommy-mommy, terutama yang stay di rumah, berilah anaknya ASI. Gimanapun juga ASI itu makanan terbaik kog. Tapi lihat juga keadaannya. Kalau ASI kering atau kurang, yaa nggak apa-apa. Yang penting, pilihlah sufor yang menurut mommy baik dan cocok buat bayinya.

Keadaan setiap wanita itu berbeda. Mulai dari hamil, lahiran sampai jadi mommy. Jadi, alangkah lebih baik berbagi cerita tanpa disertai nyinyir.


Oke, Mom. Cukup sekian ceritaku hari ini. Kalau cerita mommy, apa?
Share:

4 comments:

  1. Hikss yg belum punya baby juga boleh baca kan mbk.
    Setidaknya bisa kasi ini di info ke temen2 yg udh punya bayi hheee

    ReplyDelete
  2. boleh banget dong, seenggaknya bisa jadi pembelajaran. Ntar kalau jadi ibu, biar bisa lebih baik dari aku :)

    ReplyDelete
  3. Yup jadi ibu pintar di jaman yang canggih ini susah. Mesti banyak gali informasi dari sumber yang terpercaya. Belum lagi menghadapi mitos2 jaman dulu ya xD

    ReplyDelete
  4. Bener banget Mbak Syahdian, kudu pinter2 nyaring berita. Kalau mau percaya mitos, yang dipercaya yang masuk akal ajah... heheh
    Apalagi tinggal di kampung, nggak mudah ninggalin mitos.

    ReplyDelete

Follow by Email

Total Pageviews

IBX582E4C1C7C1F7

Popular Posts

Blog Archive