Skip to main content

MEMILIH SEKOLAH UNTUK ANAK





MEMILIH SEKOLAH UNTUK ANAK 



Hay buibu, apa kabarnya? #selasabercerita #obrolankeluarga #obrolanrumahtangga mengudara kembali setelah sekian lama hiatus. Hahaa... #lebay 



Untuk tema minggu ini, aku dan Mak Aya mau ngebahas soal sekolah nih. Kalau Mak Aya kan si Rey dan Shoji sudah sekolah, etapi kalau Juna—anakku—kan belum. Jadi kami bakalan bahas soal sekolah anak dari sudut pandang kami masing-masing. 



Sebenarnya, kriteria sekolah kayak gimana sih yang dicari? 



Yang gimana, yah? Hmm... Kalau boleh jujur sich ya, aku belum dapat sekolah yang pas buat Juna. Padahal tahun ini aku rencananya mau masukin Juna ke PAUD. Dannn... iya, di usianya 3 tahun, Juna memang belum aku sekolahin. Emaknya masih galau... hahaha... 



Hla gimana yah? Aku baca artikel, anak enggak perlu PAUD, anak di bawah lima tahun jangan diajarin calistung. Padahal, PAUD di sekitarku tuh sudah diajari calistung dan membaca. 



Daripada galau, yasudah... Juna belum sekolah. Calistung? Dikit-dikit aku ajarin. Dan... aku niatnya Juna tahun ini masuk PAUD. PAUD setahun ajah, ntar terus TK A dan TK B, usia 6,8 si Juna masuk SD. 



Soal SD, aku sich sudah dapat sesuai yang aku mau. Tapi PAUD atau TK? 



Sekarang kebanyakan PAUD itu sudah diajarin baca, calistung juga. Mauku sich yah, Juna diajarin nyanyi-nyanyi ajah dulu, bermain sambil belajar, diajarin bersosialisasi, diajarin mandiri serta pembiasaan-pembiasaan. Tapi yah, hidup di desa, pilihan sekolahnya kecil. Ada sich PAUD yang sreg di hati, pulang jam 3 sore (cocok buat emak bekerja) dan diajarin soal agama juga. Tapi sayangnya, berlawanan arah sama tempat aku kerja. 



Sementara yang dekat dengan tempat kerja? 

Ada 2 sekolah yang aku incar. Tapi karena letaknya, yang satu aku skip. Padahal lumayan bagus. Jadi... sudah dapat PAUD yang cocok buat Juna. 



Kriteria PAUD yang aku mau... 

Sesuai karakter Juna, sebenarnya sekolah alam itu yang cocok buat dia. Sayangnya, di sekitar aku belum ada. Yaudahlah... skip... 



Dan seperti yang aku bilang di atas, maunya sih sekolah yang santai saja. Karena masih PAUD, enggak harus tiap hari kan, yah? Tapi kan sekarang kebanyakan PAUD itu masuknya Senin sampai dengan Jum’at. Tak apalah... 



PAUD yang santai yang aku maksud yah yang ngebiarin dia bermain tapi mainan edukasi, yah? Soal calistung dan membaca sich aku santai, belum waktunya. 





Hmm, PAUD yang melatih kemandirian. Jadi orang tua enggak harus nungguin, gituh. Terus, soal makan kalau aku lebih suka yang anak bawa bekal atau dapat dari sekolah. Aku kok kurang setuju kalau ada anak yang jajan. Apalagi soal kebersihannya yang masih dipertanyakan. 



PAUD yang aku mau : 

1. Yang ngajarin Juna bersosialisasi tanpa ada orang tuanya. Gimana sich reaksi dia saat bersama teman-temannya dan orang tuanya tidak ada? Bagaimana cara Juna menghadapi masalahnya? 

2. Yang ngajarin Juna soal kemandirian. Bagaimana reaksi Juna saat dia mau minum, mau makan, mau ke toilet saat enggak ada orang tuanya? 

3. Yang ngajarin Juna soal peraturan-peraturan. Selama ini Juna itu masih semau guwe. Dia tipekal anak yang harus dinasehatin berkali-kali. Harapan aku sich ya, kalau Juna sekolah, dia lebih bisa dinasehatin. 

4. Yang ngajarin Juna lepas dot. Ini sebenarnya PR banget buat aku. Kalau toilet training sich Alhamdulillah, Juna sudah enggak pakai pampers, enggak ngompol. Tapi kalau mimik susu, Juna masih ngedot. Pernah aku beliin botol yang ada sedotannya itu, tapi ternyata? Mimik pakai sedotan dan gelas itu kalau mimik teh manis atau air putih. 

Harapanku yah, kalau Juna sekolah, dia bakalan punya teman, terus malu mimik pakai dot. Lepas dech dia sama dot. Hehehe... 

5. Yang ngajarin Juna belajar. Soal belajar sich sebenarnya sudah diajarin di rumah. Yang aku maksud di sini, gimana sich reaksi Juna saat ada guru yang mengajar? Soalnya dia selama ini kalau ketemu teman itu tahunya ya main, main dan main. 



Intinya sich baru 5 poin di atas. Aku belum mikir kalau Juna masuk PAUD terus dia bisa calistung dan sebagainya. Buat aku ini pelan-pelan saja. Dia hafal warna saja aku sudah happy, kok. Dia mau nyanyi dan baca doa juga sudah bersyukur banget. 






Mencari sekolah yang pas di hati tapi tinggal di desa itu menurut aku lumayan sulit. Pilihan sekolahnya sedikit. Sebenarnya sih ada sekolah incaran, tapi agak jauh dari rumah dan tempatnya berlawanan arah sama tempat kerja. Emang biaya tuh sekolah bisa dibilang lumayan, biaya masuk lebih mahal dari harga Samsung S9... hahaha... tapi ya, jujur aku suka sih sama visi misinya. 



Oh ya, saat ini aku lagi membaca dan memahami buku Panduan Memilih Sekolah Zaman Now. Sebagian besar sich isinya kayak apa yang aku pikirkan. Ntar aku review, yah? Buibu yang mau beli bukunya juga bisa japri aku. Heheh... 


Comments

Popular posts from this blog

DIY : MEMBUAT CELENGAN DARI KARDUS BEKAS

DIY : MEMBUAT CELENGAN DARI KARDUS BEKAS


DIY : MEMBUAT CELENGAN DARI KARDUS BEKAS. Akhir-akhir ini, mamah juna lagi rajin banget bikinin mainan sendiri buat Baby Juna. Yups, selain mencari irits, mamah juna juga mau belajar kreatif dan menstimulasi kecerdasan Baby Juna. Selain itu, juga mau mengalihkan perhatian Baby Juna dari tablet dan Thomas.
Baca : MorinagaChil Go, Bekal Masa Depan Untuk Generasi Platinum
Nah, setelah hari Minggu kemarin saya ngajakin Baby Juna mainan Fingger Paint dan Flubby Jelly, maka hari Kamis kemarin saya ngajakin Baby Juna main celengan. Kebetulan sayanya izin lantaran di rumah ada orang meninggal dan enggak ada yang momong Baby Juna.
Sebenarnya, Baby Juna sih sudah dari dulu sering main celeng-celengan. Kalau enggak salah semenjak usianya 17 bulanan. Kala itu sih karena kalau liat uang receh tahunya kerokan (secara saya kalau sakit harus dikerokin emak baru sembuh). Nah, dan kebetulan juga Baby Juna punya celengan. Makanya, saya alihkan ke celengan daripada k…

MEMBUAT DRUM DENGAN KALENG SUSU BEKAS

MEMBUAT DRUM DENGAN KALENG SUSU BEKAS
MEMBUAT DRUM DENGAN KALENG SUSU BEKAS. Anaknya minum sufor? Banyak kaleng susu bekas? Kenapa enggak dimanfaatin saja buat bikin mainan?


Berawal dari kaleng susu bekas, bisa dibuat permainan loh. Kalau Arjuna itu, kaleng susu bekasnya suka banget buat mainan. Mulai dari disusun sampai setinggi-tingginya sampai dibikin drum.

Dan melihat Arjuna suka mukul-mukul kaleng susu bekasnya dengan ngasal, akhirnya sayapun punya ide, kenapa enggak dibikin drum saja? Alat pemukulnya sendoknya? So, kaleng dan sendoknya bakalan bermanfaat dari pada harus nganggur cantik di tempat sampah.


Oke, mari kita eksekusi, gimana sih caranya bikin drum dari kaleng susu bekas? Yang jelas sih gampang banget. Siapin ajah alat dan bahannya : kaleng susu bekas, sendok susu bekas, rafia, gunting dan solasi.
Cara bikin drum dari kaleng susu bekas : 1.Kumpulin kalengnya jadi satu 2.Lalu ikat dengan rafia (diikat supaya menjadi satu, biar enggak bececeran)

Cara bikin pemukul drum dari send…

STOP MEMBANDINGKAN! SETIAP ANAK MEMILIKI KEMAMPUAN YANG BERBEDA

STOP MEMBANDINGKAN! SETIAP ANAK MEMILIKI KEMAMPUAN YANG BERBEDA
STOP MEMBANDINGKAN! SETIAP ANAK MEMILIKI KEMAMPUAN YANG BERBEDA. Pernah ngalamin enggak, anaknya dibanding-bandingkan sama anak tetangga atau anak saudara? Saya mah sering, dan jujur sich ada yang bikin saya baper. Wkwkwk...*emaknya Juna emang gampang baper. LOL
Sebenarnya saya sich enggak suka kalau dibanding-bandingin gitu. Wong saya juga anti banget kalau sudah dibandingin, makanya enggak mau juga kalau Arjuna dibandingin. Karena buat saya, kemampuan setiap anak itu berbeda, dan setiap anak terlahir dengan keunikannya sendiri-sendiri. Jangankan sama anak orang lain yang beda orang tua, beda pola asuh, terkadang sama adek kakak bahkan saudara kembar yang orang tuanya sama, pola asuhnya sama ajah berbeda, jadi... SAY NO TO NGEBANDINGIN, yah?!

Sebelum saya mau cuit-cuit lebih lanjut nih, saya mau cerita dulu soal Arjuna yang pernah dibanding-bandingin.
Arjuna pernah dibanding-bandingin sama kakak sepupunya yang usia selisih …