Skip to main content

JANGAN JADI TETANGGA YANG RESE...


JANGAN JADI TETANGGA YANG RESE...

“Eh lihat, paling itu ceritanya ntar juga gini...”
“Tuh, bener kan?”

Atau

“Tahu enggak, si X tadi update status gini... dia pasti enggak bahagia.”

“Si Y juga. Tahu enggak, umur dia berapa? Belum nikah. Dianya sih sukanya milih-milih...”


Helllooooooowww...
2018.
Masih jadi penonton rese? Penonton di dunia nyata maupun dunia maya. Yang terkadang kita enggak tahu kebenarannya tapi kita sok ‘maha’ tahu terus endingnya ngomong ke orang-orang. Prasangka yang salah, jadilah fitnah.

Note : ini postingan curhat. Boleh skip, boleh juga dibaca sampai selesai.

Berawal dari obrolan tetangga yang ‘ngawur’ terhadap prasangkanya terus jadi fitnah, maka saya menulis ini. Hahaha...

Sebagai emak bekerja dari jam 7 sampai jam 14. Berlanjut momong anak, beberes rumah, nyuci dan malam harinya kejar deadline, jujur kalau aku adalah tipekal emak-emak yang enggak pernah main ke tempat tetangga. Kecuali kalau Juna lari dan aku ngawasin. Itupun enggak bisa ngobrol banyak karena mata dan mulut terfokus sama polah si bocah.

Jangankan ngobrol banyak sama tetangga, wong di kantor saja aku itu jarang banget ngumpul ke kantor karena keenakan ngendon di ruangan sendiri. Kebiasaan aku, kalau tugas kantor selesai, refreshingnya ya ngeblog. Entah ngeposting atau blogwalking.


“Enggak ada waktu tapi kalau dolan kok ada waktu?”

Dan tetangga pengikut sosmed saya akhirnya menjadi penonton yang rese. Yang terkadang bikin  “rrggghhhhh.

Gimana enggak?

Aku ada undangan blogger, biasanya kalau Blogger Solo itu diundang ke hotel atau tempat makan baru. Yaelah, namanya blogger kan sekarang enggak sekadar nulis di blog doang, share juga di sosmed. Yang ada dibilang suka foya-foyalah, sombonglah karena enggak mau deket sama tetangga tapi mainnya di hotelah. Terus, sok kayalah.

Dan helllooowwww...

Ingin kujelaskan kalau gue kayak gitu itu bagian dari pekerjaan!

Tapi...

Pekerjaan apa?

Haruskah kujelaskan apa itu blogger?

Hufffttt...

Ada lagi...
Tahu kan yah blog ini, blog yang kudirikan sebagai blog parenting. Isinya adalah cerita Mama dan Juna. Etapi...

“Mamahnya Juna itu soal Juna dikit-dikit ditulis...”

Lah...
Iyakali ini blog Mama dan Juna, masa iya mau kutulis soal aib mertua, ipar atau malah aib tetangga. Besoklah kalau gue sudah punya akun @cocote_tonggo

Di sini, terkadang aku merasa sedih...

Sedih pada keresean hidup. Apalagi sekalinya ngumpul malah disindir. Kalau sudah begitu, ya mana aku tahan. Mbok mending aku milih skip.

Ngumpul sama tetangga, ngobrol ngalor ngidul. Kebiasaannya, curhat masalah mertua, masalah ipar, sampai masalah suami. Habis itu pamer gaji suami berapa, anaknya sudah bisa ngapain aja. Lah... bisa jadi yang enggak ada masalah sama mertua dan iparnya jadi kesetrum nyari kesalahan mereka. Lah... bisa jadi enggak bersyukur sama nafkah suami karena tetangga sebelah gaji suaminya lebih banyak. Lah... bisa jadi membandingkan anak sendiri dengan anak tetangga.

Duh... duh...

Hayati sedih...

Kalau seorang memilih enggak ngumpul tapi postingan sosial medianya itu suka ke sana-ke mari. Mbok positif thinking saja. Siapa tahu ybs sibuk. Sibuk nyari duit buat bayar sekolah anak, bayar listrik, bayar BPJS, bayar angsuran atau apalah. Namanya kehidupan keluarga, pengeluaran pasti ada saja.

Plislah...
Jangan mikir buruk mulu sama tetangga sendiri. Sesekali dong mikir positif.

“Oh, dia enggak ngumpul karena kerja...”

“Oh, dia enggak ngumpul karena pekerjaan rumah belum kelar...”

Daripada ngumpul diajak ngegibah. Sekalinya enggak ngumpul dijadiin bahan. Blas enggak pernah ngumpul, sekali ngumpul malah dibully.

Argh... hidup bertetangga apalagi di desa itu memang berat. Terkadang, kita seolah dituntut harus menomor satukan tetangga daripada pekerjaan. Jika kita lebih mementingkan pekerjaan, bisa jadi dibilang egois. Diancam ntar kalau susah enggak bakal mau pada bantuinlah.

Intinya...

Ampun DJ...

Hidup bertetangga itu berat...





Comments

  1. Ya ampuun maakkk...kurang kerjaan banget orang2 itu. Semangat terus y mak Wit..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... kasihlah mereka kerjaan Mak.. hahaha

      Delete
  2. Biar dilan saja yang nanggung. Hehe. Cuekin ajalah mba, nanti capek sendiri

    ReplyDelete
  3. Tinggal di desa mmh plus minus ya mbak. Giliran di kota begini, bertetangga rasanya enggak bertetangga. Lu gue lu gue...padahal pinggiran lho hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa Mbak... Kalo di kota terlalu individualis, kalo di desa terlalu banyak ikut campurrr

      Delete
  4. Gitu memang mba, ada yang suka ada juga yang nggak suka sama kita. Cuekin aja ya mba ntar capek-capek sendiri, hehehe.

    ReplyDelete
  5. Itu di kota kah mbak wit? Hehehe. Di desa malah makin parah lho keponya . Subhanallah baru ngerasain hijrah d desa agak culture shock wkwkwk

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

STOP MEMBANDINGKAN! SETIAP ANAK MEMILIKI KEMAMPUAN YANG BERBEDA

STOP MEMBANDINGKAN! SETIAP ANAK MEMILIKI KEMAMPUAN YANG BERBEDA
STOP MEMBANDINGKAN! SETIAP ANAK MEMILIKI KEMAMPUAN YANG BERBEDA. Pernah ngalamin enggak, anaknya dibanding-bandingkan sama anak tetangga atau anak saudara? Saya mah sering, dan jujur sich ada yang bikin saya baper. Wkwkwk...*emaknya Juna emang gampang baper. LOL
Sebenarnya saya sich enggak suka kalau dibanding-bandingin gitu. Wong saya juga anti banget kalau sudah dibandingin, makanya enggak mau juga kalau Arjuna dibandingin. Karena buat saya, kemampuan setiap anak itu berbeda, dan setiap anak terlahir dengan keunikannya sendiri-sendiri. Jangankan sama anak orang lain yang beda orang tua, beda pola asuh, terkadang sama adek kakak bahkan saudara kembar yang orang tuanya sama, pola asuhnya sama ajah berbeda, jadi... SAY NO TO NGEBANDINGIN, yah?!

Sebelum saya mau cuit-cuit lebih lanjut nih, saya mau cerita dulu soal Arjuna yang pernah dibanding-bandingin.
Arjuna pernah dibanding-bandingin sama kakak sepupunya yang usia selisih …

STIMULASI ANAK USIA 15 – 18 Bulan

STIMULASI ANAK USIA 15 – 18 Bulan

STIMULASI ANAK USIA 15 – 18 Bulan. Anak usia 15 – 18 bulan sebenarnya tidak banyak mengalami perkembangan motorik dan stimulasi anak yang signifikan. Akan tetapi, anak justeru berktivitas yang membuat orang-orang terdekat menjadi gemas.


Di usia ini, anak biasanya sudah bisa berdiri tanpa berpegangan, malah ada juga yang sudah bisa jalan. Dan Alhamdulillah, Arjuna sudah bisa jalan di usianya yang menginjak 12 bulan, jadi saat usia 15 bulan dia sudah lari-lari. Usia 15 – 18 bulan, anak biasanya sudah bisa : 1.Membungkuk dan mengambil mainannya sendiri 2.Berjalan maju mundur, jinjit atau berputar-putar 3.Memanggil ayah ibunya dengan sebutan sesuai ajaran kedua orang tuanya 4.Menumpuk kubus atau kaleng 5.Memasukkan mainan ke dalam kotak 6.Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis atau merengek 7.Memperlihatkan rasa cemburu

Baca : Perkembangan Arjuna Usia 17 Bulan dan PerkembanganArjuna Usia 18 Bulan

Sementara stimulasi untuk anak usia 15 – 18 bulan, antara lain :
1

TEMPRA : USIR DEMAM, CERIAKAN LIBURAN SI KECIL

TEMPRA : USIR DEMAM, CERIAKAN LIBURAN SI KECIL

TEMPRA : USIR DEMAM, CERIAKAN LIBURAN SI KECIL. Sudah punya rencana mau liburan, tapi gagal total karena Si Kecil demam. Pernah ngalaminnya enggak, Mak? Kalau saya sih pernah ngalaminnya. Jauh-jauh hari sudah berencana liburan, sudah bikin list mau ke mana dan ngapain saja sampai sudah nyiapin semuanya, eh tapi...
Kecewa dan sedih sih pasti. Etapi lebih sedihnya lagi itu ngelihat Si Kecil yang dikit-dikit rewel. Jangankan jadi mikirin liburan, mikirin gimana nurunin demamnya Si Kecil dan bikin Si Kecil ceria kembali saja sudah menguras pikiran. Huft...


Sebenarnya, demam itu bukanlah penyakit loh, Mak. Akan tetapi, demam merupakan sebuah gejala. Dan biasanya, demam lebih sering terjadi pada anak di bawah 5 tahun karena sistem kekebalan pada bayi belum terbentuk secara sempurna.
Penyebab demam sendiri juga bukan suatu yang serius atau gawat. Akan tetapi, sebagai ibu, kita perlu mengetahui apa penyebab demam. 1.Infeksi saluran pernafasan : infeks…