Skip to main content

KAPAN PUNYA ANAK (LAGI)?

KAPAN PUNYA ANAK (LAGI)?


Kapan punya anak (lagi)? Sebuah pertanyaan yang sempat bikin aku ogah untuk silahturahmi. Bahkan semenjak Ramadan, aku sudah nyiapin hati untuk menjawab pertanyaan tersebut. Etapi, ternyata enggak banyak kok yang melontarkan pertanyaan tersebut. Adalah satu dua orang doang dan kata-katanya dikemas dengan santai. Jadi aku sih enggak baper.

Awalnya, aku juga takut kalau aku bakalan dibanding-bandingkan dengan saudara atau teman yang kebetulan sudah punya anak dua atau lagi hamil anak kedua padahal umur anaknya di bawah Juna. Khawatirnya sih bakalan dibanding-bandingin gitu, kan enggak asyik banget. Secara kan yaaa, lebaran itu sering banget ditanya kapan.



Kembali ke topik, kapan punya anak (lagi)? Aku yang awalnya sih kepengen punya anak lagi sebelum usia 30. Dan akhir tahun ini usiaku sudah memasuki tahun ke 29. Sementara Juna juga sudah TK, harusnya aku kan udah siap. Tapi faktanya? Soal punya anak lagi ini aku kebanyakan mikir. Memangnya, apa yang aku takutin?



Lantas, kenapa masih mikir soal punya anak lagi? Banyak bangetlah alasannya. Salah satunya mungkin aku sedang menikmati duniaku saat ini. Atau, masih banyak hal-hal yang belum selesai dan harus aku selesaikan. Bisa jadi juga ada hal-hal yang ingin kuraih. Argh, banyak sekali tapinya. Dan menurut aku, punya anak lagi itu banyak hal yang harus dipikirkan dan dipersiapkan. Terus aku ngaca ke diri sendiri, punya anak satu ajah sering dititipin ke orang tua, kalau punya anak lagi gimana?

Intinya sih gini, punya anak lagi artinya aku harus menyiapkan mental aku dan juga mental Juna. Bahwa aku harus siap ribet karena ngurus bayi dan balita, harus lebih sabar kalau Juna berulah, harus adil dan harus rela ninggalin beberapa pekerjaan aku. Intinya sih harus benar-benar siap mental, lahir dan batin. Pun aku juga harus menyiapkan mental Juna. Yang biasanya hanya ada dia, dia harus berusaha berbagi segalanya--materi, kasih sayang, perhatian sampai waktu. Dan aku sedang memikirkan itu semua, biar Juna juga benar-benar siap. Karena punya adek dari adek ipar kemarinpun anaknya masih banyak ulah. Meskipun akhirnya dia udah nerima kalau sekarang punya adek.

Pernah loh aku dan suami diprotes enggak sayang dia karena aku ngajakin adeknya. Dalam hati aku yang baperan ini langsung mak jlebbb. Kupeluklah dia.

Hal yang paling aku enggak mau adalah kalau aku punya anak lagi dan Juna belum siap, dia merasa tersisih. Banyak kan yang punya adek terus si kakak dibiarin gitu aja, kurang perhatian sampai suka berulah demi mendapatkan perhatian. Etapi, bukan perhatian yang didapat, dimarahin juga. Nah… aku enggak mau aja hal-hal kayak gitu terjadi.

Jadi… jadi… aku lagi menyiapkan mental aku dan mental Juna sebelum memutuskan untuk punya anak lagi. Kalau ditanya kapan, ya semoga secepatnya. Hehehe… Aamiin.

Kalau sekaranng ya jujur saja aku sedang menikmati hari-hari aku sebagai seorang ibu bekerja dan seorang ibu yang anaknya masuk TK. Jadi ya lagi seneng-senengnya sama Juna sih. Jadi meskipun kerja, tapi bisa anter jemput Juna sekolah, ikut kegiatan wali muridnya. Yaa… pokoknya lagi benar-benar menikmati peran saat ini.

Soal ditanya kapan punya anak lagi? Tuhan lebih tahu waktu yang tepat buat kami nambah anak lagi… :)

Comments

Popular posts from this blog

STOP MEMBANDINGKAN! SETIAP ANAK MEMILIKI KEMAMPUAN YANG BERBEDA

STOP MEMBANDINGKAN! SETIAP ANAK MEMILIKI KEMAMPUAN YANG BERBEDA
STOP MEMBANDINGKAN! SETIAP ANAK MEMILIKI KEMAMPUAN YANG BERBEDA. Pernah ngalamin enggak, anaknya dibanding-bandingkan sama anak tetangga atau anak saudara? Saya mah sering, dan jujur sich ada yang bikin saya baper. Wkwkwk...*emaknya Juna emang gampang baper. LOL
Sebenarnya saya sich enggak suka kalau dibanding-bandingin gitu. Wong saya juga anti banget kalau sudah dibandingin, makanya enggak mau juga kalau Arjuna dibandingin. Karena buat saya, kemampuan setiap anak itu berbeda, dan setiap anak terlahir dengan keunikannya sendiri-sendiri. Jangankan sama anak orang lain yang beda orang tua, beda pola asuh, terkadang sama adek kakak bahkan saudara kembar yang orang tuanya sama, pola asuhnya sama ajah berbeda, jadi... SAY NO TO NGEBANDINGIN, yah?!

Sebelum saya mau cuit-cuit lebih lanjut nih, saya mau cerita dulu soal Arjuna yang pernah dibanding-bandingin.
Arjuna pernah dibanding-bandingin sama kakak sepupunya yang usia selisih …

STIMULASI ANAK USIA 15 – 18 Bulan

STIMULASI ANAK USIA 15 – 18 Bulan

STIMULASI ANAK USIA 15 – 18 Bulan. Anak usia 15 – 18 bulan sebenarnya tidak banyak mengalami perkembangan motorik dan stimulasi anak yang signifikan. Akan tetapi, anak justeru berktivitas yang membuat orang-orang terdekat menjadi gemas.


Di usia ini, anak biasanya sudah bisa berdiri tanpa berpegangan, malah ada juga yang sudah bisa jalan. Dan Alhamdulillah, Arjuna sudah bisa jalan di usianya yang menginjak 12 bulan, jadi saat usia 15 bulan dia sudah lari-lari. Usia 15 – 18 bulan, anak biasanya sudah bisa : 1.Membungkuk dan mengambil mainannya sendiri 2.Berjalan maju mundur, jinjit atau berputar-putar 3.Memanggil ayah ibunya dengan sebutan sesuai ajaran kedua orang tuanya 4.Menumpuk kubus atau kaleng 5.Memasukkan mainan ke dalam kotak 6.Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis atau merengek 7.Memperlihatkan rasa cemburu

Baca : Perkembangan Arjuna Usia 17 Bulan dan PerkembanganArjuna Usia 18 Bulan

Sementara stimulasi untuk anak usia 15 – 18 bulan, antara lain :
1

TEMPRA : USIR DEMAM, CERIAKAN LIBURAN SI KECIL

TEMPRA : USIR DEMAM, CERIAKAN LIBURAN SI KECIL

TEMPRA : USIR DEMAM, CERIAKAN LIBURAN SI KECIL. Sudah punya rencana mau liburan, tapi gagal total karena Si Kecil demam. Pernah ngalaminnya enggak, Mak? Kalau saya sih pernah ngalaminnya. Jauh-jauh hari sudah berencana liburan, sudah bikin list mau ke mana dan ngapain saja sampai sudah nyiapin semuanya, eh tapi...
Kecewa dan sedih sih pasti. Etapi lebih sedihnya lagi itu ngelihat Si Kecil yang dikit-dikit rewel. Jangankan jadi mikirin liburan, mikirin gimana nurunin demamnya Si Kecil dan bikin Si Kecil ceria kembali saja sudah menguras pikiran. Huft...


Sebenarnya, demam itu bukanlah penyakit loh, Mak. Akan tetapi, demam merupakan sebuah gejala. Dan biasanya, demam lebih sering terjadi pada anak di bawah 5 tahun karena sistem kekebalan pada bayi belum terbentuk secara sempurna.
Penyebab demam sendiri juga bukan suatu yang serius atau gawat. Akan tetapi, sebagai ibu, kita perlu mengetahui apa penyebab demam. 1.Infeksi saluran pernafasan : infeks…