Skip to main content

Menumbuhkan Potensi Anak Lewat Inner Strength Biskuat Academy 2022

 Menumbuhkan Potensi Anak Lewat Inner Strength Biskuat Academy 2022

 

“Tadi anakmu nakal lagi, saat bermain bikin anak tetangga nangis!” Itu adalah kata-kata yang nyaris setiap hari saya dengar setiap pulang kerja.

“Tadi main bawa mainan, temennya pinjam enggak boleh. Bikin anak tetangga nangis!”

“Tadi maksa mau pinjam mainannya anak tetangga!”

“Anakmu maunya menang sendiri, enggak mau ngalah sama anak tetangga!”

“Anakmu itu usil, enggak bisa dibilangin. Bikin anak tetangga takut saja!”

 


Sebagai orangtua, saya hanya menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Saya sangat menyadari kalau Juna adalah anak yang sangat aktif. Tapi, jika dibilang nakal? Benarkah? Karena setiap saya menemaninya bermain, saya tidak pernah melihatnya memukul temannya. Kalau terkadang dia ‘pelit’ terhadap mainannya, wajar. Toh yang tidak boleh dipinjamkan adalah mainan yang baru, sementara mainan lamanya akan dipinjamkannya dengan suka rela tanpa meminta.

Sementara soal suka menang sendiri dan enggan mengalah, saya menyadarinya. Tapi bukan berarti saya membiarkannya. Saya selalu menasehati anak berusia 3 itu. Meskipun saya juga menyadari, dia belum sepenuhnya memahami perkataan saya.

Hingga pada akhirnya, di usianya yang belum genap 4 tahun, saya memasukkan untuk ke sebuah sekolah. Meskipun keputusan ini sempat menjadi perdebatan saya dengan orangtua (yang biasanya momong Juna saat saya kerja).

Meskipun orangtua saya sebenarnya kurang menyetujui keputusan saya memasukkan Juna ke sekolah karena beranggapan anaknya masih terlalu kecil dan kekhawatirannya bagaimana kalau nakal sama teman-temannya. Tapi, saya dan suami tetap bertekad menyekolahkannya. Bahkan kami memilih sekolah yang berbeda dari teman-teman Juna di rumah.  Hal ini untuk meminimalisir pertengkaran Juna dengan anak tetangga.

Saya sengaja menyekolahkannya di sebuah sekolah yang dekat dengan tempat kerja saya (waktu itu). Saya sudah cek dan ricek, bahkan meminta testimoni dari beberapa kenalan yang pernah menyekolahkan anaknya di Kelompok Bermain tersebut dan sepertinya sesuai dengan visi saya yaitu mengajarkan kemandirian serta membiarkan Juna menjadi dirinya sendiri sesuai potensi yang dimilikinya. 

Di sekolahnya, orangtua tidak boleh menunggu dan Alhamdulillah sedari masuk pertama kali saya tidak menunggu Juna karena dia sudah berani sekolah sendiri. Tidak ada drama menangis. Bahkan anaknya terlihat enjoy karena bertemu dengan teman-teman baru. Dan tentunya, anaknya mudah membaur dengan teman-teman barunya. Hal tersebut, cukup membuat saya lega.

 

Apakah di sekolah, Juna adalah anak yang nakal?

Anak aktif = anak nakal.

Saya menyadari akan label NAKAL yang melekat pada anak saya. Jujur, sempat ada rasa was-was dari diri saya. Apakah anak saya akan mengganggu teman-temannya di sekolah seperti aduan-aduan yang seringkali saya terima saat saya pulang dari bekerja?

Saya secara aktif menanyakan perkembangan Juna ke guru PAUD-nya. Alhamdulillah, di sekolah dia tidak mendapatkan label nakal. Dia mendapatkan teman sesama anak yang aktif. Aktif dalam dindakan maupun perkataan. Dan Juna dengan mudahnya bisa bersosialisasi dengan teman-temannya. Bahkan, Juna merupakan anak yang suka sekali berbagi. 

Sementara salah satu PR untuk Juna adalah sikapnya yang sering ingin menang sendiri. Tapi bukan berarti dia adalah anak yang nakal. Dia hanya belum bisa mengontrol emosinya. Dia masih suka melakukan hal-hal sesuai dengan kemauannya. Tapi bukan berarti tidak bisa menurunkan egonya.

Dan seiring waktu berlalu, ego Juna semakin menurun. Meski tidak langsung hilang begitu saja. Sementara sikapnya yang suka berbagi terus saja berkembang. Apalagi soal berbagi makanan. Bahkan, setiap jajanpun dia selalu memikirkan jajanan untuk teman-temannya. Sementara soal mainan? Untuk mainan baru, dia agak posesif dan hanya meminjamkannya pada teman dekatnya. Lagi-lagi, ini PR buat kami orangtuanya dan juga Bu Guru untuk mengajari Juna agar tidak membeda-bedakan teman.

 


Menerima keadaan anak, karena setiap anak itu unik

Sebagai orangtua, tentunya harus memahami dan menerima keadaan anaknya. Setiap anak mempunyai kekurangan dan kelebihannya. Saya tahu, anak saya aktif, terkadang egois dan enggan mengalah. Tapi saya juga tahu, dia anak yang baik, anak yang suka berbagi dan anak yang mudah bersosialisasi.

Dan bukan hal yang baik jika dia saya bandingkan dengan anak lainnya. Karena dia adalah dia dan anak lain ya anak lainnya. Tidak bisa disamakan.

 


Lantas, sebagai orang tua, apa yang harus kita lakukan?

Setiap anak itu unik, pasti punya kelebihannya masing-masing. Setiap anak pasti punya kecerdasannya tersendiri. Secara, kecerdasan itu ada 9 kecerdasan majemuk. Dan pastinya setiap anak mempunyai kecerdasannya tersendiri. 

Beruntungnya saya, sekolah Juna adalah sekolah yang menerapkan kecerdasan majemuk. Di sekolahnya, semua anak berprestasi menurut kecerdasan mereka. Tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah anak yang pintar sesuai bidangnya. Dan kecerdasan Juna adalah kecerdasan Lingusitik-Verbal dan Logis-Matematika.

Dan selama ini, saya menyadari akan kecerdasan Juna. Anaknya yang sering tidak mau mengalah saat berdebat, suka bertanya sampai dia menemukan jawaban yang puas, dan tentunya dia anak yang sangat menyukai pelajaran Matematika. Bahkan, saat TK dia sudah bisa perkalian. Akan tetapi, saya juga menyadari kalau dia (dulu) termasuk terlambat dalam membaca. Dia baru lancar membaca dan memahami bacaan setelah masuk SD.

 

Mengembangkan potensi yang ada pada diri anak

Aktif (banyak bergerak)

Banyak bertanya

Suka berhitung

Suka memberi & suka menolong

Simpati saat temannya kesusahan


Tapi….

Sering egois dan tidak mau mengalah

Keras kepala

 

Itulah Juna.

 

Menerima kelebihan dan kekurangan anak adalah salah satu cara saya mengembangkan potensinya. Fokus akan kelebihannya dan membenahi apa yang menjadi kekurangannya.

Tidak ada manusia yang sempurna, pun saya dan anak saya. Dan salah satu cara saya mengembangkan potensinya adalah memunculkan dan membangun inner strength-nya.

 

Apa itu inner strength?

Inner strength adalah kekuatan mental yang tercerminkan oleh kekuatan karakter yang ada pada setiap anak, seperti : berani, percaya diri, penuh semangat, bertanggungjawab, dan yang lainnya.

 

Lantas, bagaimana caranya memunculkan inner strength pada anak?

Setiap anak itu unik. Dan seperti yang saya katakan di atas, setiap anak mempunyai potensi. Salah satu cara untuk memunculkan inner strength pada anak adalah dengan mendukung potensinya, dan mengapresiasi kecerdasan dan karakternya. Selain itu, anak juga diajarkan untuk belajar dari kesalahan.

Potensi yang ada pada diri Juna adalah berani, dia percaya diri, anak yang penuh semangat, mempunyai sikap yang simpati pada teman-temannya dan suka berbagi. Sikap tersebut terus saya gali dan saya kembangkan. Meskipun pada akhirnya… anak pemberani dan penuh percaya diri tersebut sempat menjadi anak yang minder dan suka menangis. Hal ini, terjadi saat dia mulai masuk SD.

 


Ternyata, label anak nakal dan sering dibanding-bandingkan dengan anak lain yang lebih anteng ataupun lebih berprestasi dalam hal seperti mengambar, mewarnai, telah mengubah anak saya.

Saya dan suami sempat sedih akan hal itu. Kami terus menyemangati dan berusaha menumbuhkan inner strength-nya kembali.

Saya selalu bertanya, apa yang membuat Juna sering merasa takut? Kenapa Juna tidak seberani dan sepercaya diri dulu? Dan saya tidak memarahinya ketika dia membuat kesalahan. Karena dari kesalahan dia belajar dan tidak memarahinya saat melakukan kesalahan adalah salah satu bentuk apresiasi saya akan kejujurannya.

Hingga saya dan suami butuh waktu untuk meyakinkan anak saya agar kembali jadi anak pemberani. Bahkan, saya membandingkan dia dengan dia sewaktu PAUD yang pemberani. Waktu PAUD, dia selalu tampil percaya diri. Dan saat pelepasan sekolah, Juna lagi-lagi tampil berani dan percaya diri. Saya bertanya, kenapa sekarang tidak?

Dan Alhamdulillah, saat kelas 2 SD dia mulai menjadi anak pemberani lagi. Sekarang sudah berani adzan di musholla dekat rumah. Dan dia percaya diri akan kemampuannya. Dia tidak takut akan kesalahan. Karena dari kesalahan, dia belajar untuk menjadi lebih baik lagi.

Sementara PR lain untuk menumbuhkan inner strength Juna adalah tentang cara dia bersosialisasi dan meredamkan egonya. Ini adalah PR yang sampai saat ini saya perjuangkan. Sikap keras kepala dan enggan mau mengalah terkadang menjadi kendala dalam bersosialisasi.

Juna memang anak yang mudah akrab dengan teman baru. Tapi, pertemanannya sering diwarnai pertengkaran. Meskipun hanya pertengkaran anak-anak, tapi bukan berarti saya membiarkannya. Saya harus berjuang dalam mengajarinya sabar dan menghargai pendapat orang lain.

 

Menumbuhkan inner strength anak dengan mengikuti Biskuat Academy

Dari awal saya bercerita kalau anak saya adalah anak yang aktif tapi berlabel nakal. Lantas, bisakah keaktifannya untuk hal yang positif?

 

Tentu saja bisa…

 

Anak aktif seolah mempunyai energi lebih. Daripada energi lebihnya terbuang sia-sia untuk hal yang negatif, kenapa tidak dikembangkan untuk hal yang positif? Seperti halnya, mengajak anak untuk berolahraga untuk menghabiskan energinya.

Dan salah satu olahraga favorit Juna adah sepak bola. Dia sudah menyukai sepak bola semenjak kecil. Halaman rumah yang luas seolah menjadi privilege untuknya. Setiap hari dia bisa bermain sepak bola di tempat yang lapang.

 

Biskuat Academy

“Kalau anaknya suka bermain sepak bola, kenapa tidak dimasukkan saja ke sekolah bola?”

Seseorang pernah menanyakannya pada saya. Yups, kalau anaknya menyukai sepak bola, kenapa tidak masuk sekolah bola saja agar kemampuannya lebih terasah.

Lagi-lagi ini merupakan PR buat saya dan suami.

Sekolah bola.

Mungkin ini akan menjadi salah satu agenda kami. Tapi, sebelum benar-benar masuk sekolah bola, saya mendaftarkan anak saya dalam event Biskuat Academy.


Biskuat Academy adalah serangkaian acara tahunan dari Biskuat untuk memberikan pembelajaran olahraga bagi anak Indonesia yang bertujuan mengembangkan tidak hanya kekuatan fisik tetapi juga kekuatan baik dari dalam untuk menciptakan #GenerasiTiger Indonesia.

 

Dan Biskuat Academy sudah mendukung kekuatan baik dari dalam anak Indonesia semenjak tahun 2019. Untuk tahun ini, Biskuat Academy berlangsung dari tanggal 25 September 2022 sampai dengan  15 Januari 2023. Untuk registrasi sudah dibuka semenjak 17 Agustus 2022.

Karena saya juga belum lama tahu tentang Biskuat Academy, saya baru saja mendaftarkan Juna. Mungkin sudah terlambat, tapi tidak apa. Toh anak tetap bisa mengikuti kelasnya. Dan kelasnya berlangsung setiap weekend. Dan Minggu, 27 November 2022 lalu sudah memasuki kelas ke 5. Untuk kelas yang ketinggalan, anak juga tetap bisa nonton videonya. Semua sudah ada di web www.biskuatacademy.com.

 



Kenapa mengikuti Biskuat Academy?

Kalau ditanya kenapa, ya karena anak saya menyukai sepak bola dan Biskuat Academy ini kelasnya dilaksanakan secara online. Selain itu, Sekolah Bola Online Biskuat Academy dilatih oleh pelatih sepakbola dengan lisensi kepelatihan UEFA Pro A yang sudah bersama dengan Biskuat Academy sejak tahun 2020 dan ada juga pro player seperti : Andik Vermansah, Gavin Kwan Adsit, Indriyanto Nugroho, dan Matias Ibo.


Dengan mengikuti Biskuat Academy, anak bisa mengembangkan Kekuatan dari Dalam dan mencapai mimpinya. Dari Biskuat Academy, anak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan karakter sekaligus menggali potensinya.

Dan dari bermain sepak bola, anak juga bisa berprestasi (non akademik) dan anak juga  bisa mengembangkan sikap berani, percaya diri, baik hati, dan tangguh.

 


Lantas, bagaimana caranya mengikuti Biskuat Academy?

Ikutan Biskuat Academy caranya mudah sekali

- Tinggal membeli Biskuat yang ada logo Biskuat Academy (pilih : 1 Biskuat 121.6 gram atau 1 Biskuat 60.8gram atau 2 Biskuat 22,8 gram atau 2 Biskuat 7,6 gram) lalu temukan kode unik yang berada di belakang kemasan.

- Setelah itu, daftar melalui WA dan ikuti step by stepnya



Oh ya, ini ada video yang sangat menarik tentang BISKUAT ACADEMY. Dan jujurly, ada kata-kata yang beneran menampar sekali :

 

“Jika satu pelatih saja dapat mengembangkan sekelompok anak, maka dukungan penuh dari berbagai pihak seperti guru, orang tua, dan masyarakat sekitar dapat menghasilkan perubahan maksimal dalam pengembangan olahraga sepak bola dan sekaligus mengembangkan karakter positif pada anak.”

 

Dan sebagai orang tua, sudah tugas kita untuk selalu mendukung potensi yang ada pada anak. Setiap anak itu unik dan berprestasi. Prestasi tidak selamanya ada pada akademis, tapi juga non akademis seperti berprestasi dalam bidang olahraga sepak bola.

Mudah sekali, bukan?

 

Nah, kenapa kok BISKUAT?

Siapa sih yang tidak tahu BISKUAT? Saya hafal banget dengan dengan BISKUAT yang bertagline ENERGI MACAN. Dan Biskuat mengandung 9 vitamin, yaitu Vitamin A, B1, B2, B3, B5, B6, B12, D, dan E; serta dilengkapi 6 mineral yaitu kalsium, magnesium, besi, fosfor, seng, dan yodium.

 

Nah, buat ibu-ibu yang anaknya suka main sepak bola, yuk ikutan Biskuat Academy dan tumbuhkan kekuatan anak dari dalam.

 

 

 

Comments

  1. Senang banget ya ortu zaman now sudah paham kebutuhan anak tidak hanya nilai rapor yang bagus. Salam buat Juna 😄

    ReplyDelete
  2. Senang sekali melihat Juna dengan proses tumbuh kembangnya yang aktif. Dan saya setuju bahwa tidak ada anak yang nakal. Semoga Juna sehat selalu, tambah pintar dan semakin percaya diri. Untuk info biskuat Academy ini mau sya share ah ke keponakanku yang senang main bola

    ReplyDelete
  3. Bisa nih jadi bahan pertimbangan para bu Ibu kalau anaknya punya kemampuan di bidang olahraga. Bisa jadi kesempatan buat si anak untuk berkembang karena pasti ada mentor terbaiknya juga ya Mbak

    ReplyDelete
  4. seru banget bisa ikutan Potensi Anak Lewat Inner Strength Biskuat Academy. Siapa tahu bisa menunjang potensi lainnya dan tentunya persiapan bagi masa depan supaya bisa digunakan kelak untuk hidup

    ReplyDelete
  5. Tidak ada kata terlambat ya Juna. Tetap semangat. Semoga cita cita Juna tercapai. Mendapatkan pelajaran di Kelas Biskuat Akademi semoga menambah ilmu wawasan dan kemampuan anak kita

    ReplyDelete
  6. Menjadi orangtua memang jadi banyak banyak belajar. Belajar mengenali karakter ananda, belajar mendengar dan belajar untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ananda sehingga membuat ananda semakin percaya diri dan inner strength bisa berkembang dengan tepat.

    ReplyDelete
  7. Senang rasanya bisa lihat anak yang aktif. Tapi tetap saja para orang tua wajib terus mengawasi agar aktivitas anak tetap dijalan positif

    ReplyDelete
  8. Menarik dan inspiratif banget program Biskuat Academy ini ya mbak
    Mendidik anak untuk belajar sepakbola sekaligus memiliki karakter yang kuat

    ReplyDelete
  9. Dengan memberikan dukungan kepada anak agar inner strength nya makin terasah dan muncul ternyata bisa dilakukan di rumah

    ReplyDelete
  10. Sedih banget memang kalau mendapati anak dibanding-bandingkan entah dengan teman atau bahkan saudara kandungnya. Rupanya hal ini malah membuat anak bisa kehilangan kepercayaan akan dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  11. Anakku cocok ini kayake makan biskuat ben tetep sehat beraktivitas, sama kayak juna g bisa diem juga mereka hehe

    ReplyDelete
  12. Di Indonesia ini memang anak aktif selalu dikaitkan dengan anak nakal. Padahal selama gak memukul temannya gak bisa disebut nakal ya, Mba. Mirisnya anak tetanggaku yang terlalu aktif malah disuruh ke psikiater oleh Guru Paudnya, padahal dia hanya aktif saja, tidak mengganggu malahan inner strengthnya lebih terlihat. Seperti menjadi percaya diri. Tetapi ada masa juga si anak menjadi kurang percaya diri, ya. Jadi PR orang tua itu memang bisa dikatakan seumur hidup.
    Untuk menumbuhkan Inner Strength beruntunglah ada Biskuat Academy yang bisa dijadikan untuk membantu anak bisa percaya diri, kuat dan berani.

    ReplyDelete
  13. keren banget programnya Biskuat ini ada inner strength untuk mengetahui potensi dan talent anak sejak dini. Saya pun sering assignment diri untuk mengetahui strength saya itu apa.

    ReplyDelete
  14. Keren nih program Biskuat Academy. Pengen daftarin anakku juga deh ke sekolah bola ini meskipun mereka jarang main bola.

    ReplyDelete
  15. Setuju banget nih, menumbuhkan inner strength penting ya dilakukan sedini mungkin, karena ini akan jadi modal dasar anak untuk tumbuh dan hidup dalam masyarakat nantinya. Di saat yang sama, tinggal diarahkan saja untuk bisa tetap berbaur dengan orang lain, tidak egois, tahu konsekuensi untuk setiap tindakannya dan sebagainya.

    ReplyDelete

Post a Comment